Sudahkah kita bersyukur?

tumblr_lvmydf9MRb1qii5iio1_500

Kemarin malam kita keluar untuk beli dimsum di deket sini. Sembari nunggu dimsumnya disiapin, ada bapak-bapak lewat di depan toko sambil narik gerobak yang sepertinya berisi barang-barang bekas. Tanpa menggunakan alas kaki, bapak ini berjalan sendiri narik gerobak sambil memegang gelas yang berisi kopi hitam di tangan kirinya.

Setelah beli dimsum, di jalan pulang kita ngobrol tentang bapak yang tadi lewat. Malem-malem kayak gini dia masih kerja untuk nyari sesuap nasi, atau mungkin untuk memberi sesuap nasi buat keluarganya di rumah. Narik gerobak, ditemani segelas kopi untuk menambah stamina atau mungkin sekedar sebagai penambah semangat.

Cape pasti, seharian narik gerobak itu kemana-mana. Kena sengatan matahari dari siang bolong sampai hari berganti malam.

Seringkali saya suka mengeluh untuk hal-hal yang ga penting. Seringkali merasa kurang ini dan kurang itu. Kadang kalau pas lagi coba makanan di tempat baru dan makanannya ga enak, selesai makan pasti ngoceh ah makanannya ga enak ya. Ga mikir kalau di luar sana ada orang-orang yang bahkan mau makan sesuap nasi aja mesti dicari susah payah.

Harusnya bersyukur.. Setiap hari masih bisa makan dengan lauk yang berkecukupan. Sayur cukup, daging juga cukup. Walaupun belum punya rumah sendiri, bersyukur karna masih dikasih tempat berlindung di rumah yang nyaman. Masih bisa tidur di ruangan berAC, masih bisa tidur di atas kasur. Masih bisa mandi dengan air yang bersih tanpa takut kehabisan air.

Bersyukur masih punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bersyukur atas segala sesuatu yang sudah dimiliki.

Kalau selalu ngeliat ke atas, ga akan ada habisnya segala yang dirasa masih kurang. Sekali-sekali lihat ke bawah supaya diri sendiri tertampar dan malu karna sering mengeluh. Tapi seharusnya ga perlu sampai ngeliat ke bawah dulu, lalu baru bersyukur atas apa yang udah dimiliki.

Seharusnya bersyukur dilakukan setiap saat, saat susah maupun senang.

Kalau lagi senang rasanya pasti lebih mudah untuk bersyukur, begitu ada masalah sedikit mulai deh rentetan keluhan yang bahkan suka ga sadar diucapkan keluar gitu aja dari mulut. Aaaakk harus bisa direm supaya kelak bisa jadi contoh buat anak-anakku nanti. Amin. *aminin sendiri*

Saya belajar untuk lebih bersyukur. Bersyukur karna keadaan sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu. Sadar kalau ucapan syukur itu selalu manjur buat hati jadi lebih tenang. Ucapan syukur buat saya belajar untuk berpuas akan hal-hal yang sudah saya miliki. Bukan cuma mengeluh atas apa yang belum dimiliki. Ucapan syukur buat saya sadar kalau Tuhan ga pernah meninggalkan saya barang sedetikpun 🙂

Tapi ya namanya manusia, kadang ingat bersyukur, kadang suka ga sadar ngeluh melulu. Setidaknya saya bersyukur masih diingatkan untuk selalu bersyukur.

Sudahkan kita bersyukur hari ini? 🙂

“Let gratitude be the pillow upon which you kneel to say your nightly prayer. And let faith be the bridge you build to overcome evil and welcome good.” – Maya Angelou

Be grateful

Ceritanya, sudah beberapa hari ini baca blog orang yang ditemukan secara random dari blog orang lain lagi. Sayangnya saya belum ngerti cara ngelink alamat blog itu gimana sih? *gaptek*

Anyway, nanti kalau udah tau akan saya coba link di post yang lain. Saya jadi berpikir, Tuhan selalu mengingatkan kita untuk selalu bersyukur lewat cara sederhana yang ga pernah terpikirkan oleh kita. Contohnya, pagi ini saya disentil lagi melalui blog yang baru aja dibaca, kalau bersyukur adalah salah satu hal yang harus selalu kita lakukan. SELALU. No matter what we’ve been through, God allowed such thing to happen in our lives. No matter how bad or how good is it.

Siapa sangka pagi ini saya boleh diingatkan kembali untuk bersyukur atas segala sesuatu yang sudah didapatkan, atas pekerjaan saya, atas hal-hal yang saya pikir mustahil untuk dicapai, hanya dengan membaca sebuah postingan di blog? Lihat, gimana Tuhan selalu berusaha mengingatkan kita untuk ga pernah berhenti bersyukur.

Jadi keinget tadi pagi waktu lagi di bus, ngeliat bapak-bapak tua bawa kantong besar yang isinya tisu dan masker. Naik turun bus untuk cari nafkah. Lalu berapa pendapatan yang bisa ia dapatkan paling banyak dalam sehari? 10ribu? 20ribu? Bapak itu udah tua, tapi hidupnya masih aja keras. Masih aja harus banting tulang kayak gitu demi sesuap nasi. Is that fair?

Bisa bayangin ga kalau orang tua yang jualan itu adalah orang terdekat kita? Jadi kenapa saya harus selalu menggerutu atas betapa saya tidak suka sama pekerjaan yang sekarang, betapa sangat melelahkan, betapa sangat membosankan duduk di kursi ini, sedangkan ada banyak orang di luar sana yang hanya untuk mendapatkan uang 10 ribu sehari saja mungkin luar biasa susahnya. Tenaga sudah digerus umur, tapi harus naik turun bus untuk jualan yang kadang dalam 1 bus aja ga ada sama sekali yang beli, panas-panasan di pinggir jalan ditemani dengan udara ‘segar’ dari polusi kendaraan.

Di saat ngetik ini pun saya ngerasa kayak ditampar. Saya selalu menggerutu untuk hal-hal yang ga penting. Almost every single day if i can say. Selalu mengeluh betapa saya tidak meyukai pekerjaan yang sekarang, betapa sangat membosankan, betapa saya ingin melakukan hal-hal yang saya sukai. You know people always said,

Choose a job you love so you will never have to work a day in your life

Oh, how i couldn’t agree more. But sometimes in life, we can’t always do or working on things that we love. Ada saat-saat kita harus berkompromi dengan keadaan bahwa di kehidupan nyata kita harus bekerja, whether you like it or not. Mau kerjaannya membosankan, susah, ga cocok, ya tetep harus kerja. Tuhan sudah memberikan kita anugerah untuk bisa bekerja, jadi kenapa kita harus menyia-nyiakannya? *nampar diri sendiri*

By the way, thanks to May yang melalui tulisan di dalam blognya menyadarkan saya akan banyak hal. Life is a constant exercise in self improvement. We could be a better person for sure. Start with being grateful!