Walking down the aisle

IMG_0368_resizeWe’ve been married. God, You’ve been so good to me. You’ve always been so good to us.

Moment yang paling ga bisa saya lupain sampai detik ini waktu saya berjalan ke altar diantar sama papa dan diikuti keluarga saya yang lain di belakang. Waktu pertama kali kaki Β melangkah di aisle, hati saya dipenuhi dengan perasaan hangat, damai, bahagia yang ga akan cukup diungkapkan dengan kata-kata. Saya bahagia banget waktu itu. Detik itu rasanya saya jadi wanita yang paling bahagia di dunia :’)

Saya ga berhenti menitikkan air mata waktu melangkah pelan menuju altar. Padahal dari sebelum acara mulai saya udah wanti-wanti supaya jangan nangis terlalu banyak. Takut make up luntur, nanti kl jadi jelek gimana, kan ga bisa touch up. Hahahaha.

Ada beberapa prosesi yang bisa dipilih saat berjalan di aisle menuju ke altar. Yang pertama, saya dan calon suami jalan berdampingan lalu diikuti dengan keluarga besar yang lain di belakang. Yang kedua, calon suami jalan duluan dengan mama ke altar, lalu menunggu di altar dilanjutkan dengan saya dan papa berjalan berdampingan diantar menuju ke altar dan diikuti keluarga yang lain di belakang. Saya pilih yang kedua. Dan ternyata pilihan ini cukup banyak menguras air mata.

Sebenernya masalah prosesi masuk ini cuma hal sederhana, tapi buat saya maknanya dalam. Detik-detik saya melangkahkan kaki menuju altar dan berjalan berdampingan sama papa, buat saya bisa merasakan betapa sedih dan kehilangan papa saya karena dia harus menyerahkan anak perempuannya ke lelaki lain, lelaki yang kelak akan menggantikan peran papa selama ini. Setelah segala jerih payahnya ngerawat anak perempuannya ini dari kecil, tiba juga saat-saat dia harus merelakan anak perempuannya.

Papa saya ini jarang banget nangis di depan anak-anaknya. Tapi beberapa hari sebelum hari H, terlihat jelas gurat kesedihan di wajah papa karna saya ga akan lagi tinggal di rumah. Karna saya akan jadi seorang istri. Dan waktu kita jalan berdua ke altar, papa nangis.. Hati saya keiris-iris rasanya. Di satu sisi saya bahagia banget. Tapi di sisi lain saya ga tega liat papa saya nangis. Saya tau itu bukan sepenuhnya air mata karna sedih, tapi juga air mata kebahagiaan liat anak perempuannya menikah. Saya yakin papa juga ikut berbahagia untuk saya πŸ™‚

Sekuat tenaga saya tahan air mata supaya ga nangis tapi ga bisa. Air mata ga berhenti mengalir sepanjang saya melangkah di pelataran. Dan begitu saya tiba di altar, papa nyerahin tangan saya ke suami sambil nitip pesan ke suami. Makin dereslah air mata saya. Ga kedengeran apa yang papa saya bilang karna posisi tubuhnya condong ke arah suami sambil berbisik. Saya cuma bisa ngeliat papa saya berusaha menguatkan dirinya dan suami saya bahkan sambil nahan haru waktu papa nitip pesan.

Waktu mau duduk pun air mata saya masih aja ngalir. Saya duduk di sebelah pria yang sebentar lagi resmi jadi suami saya. Janji nikah yang selama ini boleh cuma nonton di tv atau di nikahan orang sebentar lagi akan saya ucapkan. Saya dan calon suami akan saling berjanji satu sama lain dan berjanji sama Tuhan kalau mulai detik ini kita akan menjadi satu tubuh, melewati suka dan duka bersama sepanjang hidup, mulai saat ini dan selamanya.

Sakral banget moment itu buat saya. Moment dimana rasanya saya bangun dari tidur panjang dan sadar kalau ini bukan mimpi. Kalau saya akan segera menjadi istri orang. Status saya akan berubah dan ga akan bisa diubah lagi selamanya sampai maut yang memisahkan. Saat-saat dimana saya sadar kalau bukan karna orang tua, saya ga akan mungkin ada sampai detik ini. Mulai detik itu, saya akan hidup berdua dengan lelaki pilihan saya, lelaki yang Tuhan ijinkan untuk jadi suami saya.

I feel blessed, and i can’t ask for more. Thank you Lord.. :’)

Advertisements

12 thoughts on “Walking down the aisle

    • Makasii yaa mba yo.. Oh iya yaa aku ga nulis nama suami di postnya. Ahahaha. Perkenalkan namanya Edo mba yo.. πŸ™‚

      Siaaap, nanti posting2 fotonyaa menyusuul πŸ˜€

    • kok bisaa ga nangis? ada acara sungkem2 juga kan? pasti yg ada km lega ya karna akhirnya keribetan ngurusin nikahan selesai juga..
      amin non.. makasii ya πŸ™‚

  1. Have a blessed marriage dear….Terharu baca ceritanya, walking down the aisle emang berat yah, but somehow kamu beruntung krn masih ada papa yang menjadi saksinya….Keep happy & stay blessed πŸ™‚

    • amiinn.. makasi ya mba πŸ™‚ iya, aku bersyukur bgt setidaknya kedua orangtuaku masih bisa dateng di pernikahanku. kl boleh tau, papanya mba Fe udah meninggal ya? sorry for ur lost ya mba.. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s